Skip to main content

Media Sosial Dan Penjualan: Angka Yang Perlu Dilihat Pimpinan

Tablet menampilkan grafik analitik metrik media sosial di meja kerja bersama ponsel

Hubungan media sosial dan penjualan jarang terlihat dari angka terbesar di dashboard. Jumlah pengikut dan suka mudah dilaporkan, tetapi sering tidak menjelaskan apakah media sosial berkontribusi pada penjualan. Artikel ini membahas angka yang benar-benar perlu dilihat pimpinan, metrik yang sering menyesatkan, dan cara menyusun laporan yang membantu keputusan.

Untuk daftar teknis KPI media sosial, Anda bisa membaca tulisan tim LOPOKOPI.CO. Di artikel ini saya fokus pada sisi keputusannya.

Masalah dengan Cara Kebanyakan Bisnis Membaca Angka

Ketika saya meninjau laporan media sosial dari berbagai bisnis, pola yang paling sering muncul adalah laporan yang panjang tetapi tidak menjawab pertanyaan apa pun. Isinya tabel jumlah pengikut, total tayangan, total suka, dan grafik pertumbuhan. Di akhir laporan, tidak ada kesimpulan tentang apa yang harus dilakukan berikutnya.

Laporan seperti ini bukan sepenuhnya salah tim pelaksana. Platform media sosial menyajikan banyak sekali angka, dan tanpa arahan yang jelas dari pimpinan, wajar jika tim melaporkan semuanya. Masalahnya, terlalu banyak angka sama buruknya dengan terlalu sedikit. Pimpinan jadi tidak tahu angka mana yang perlu diperhatikan, lalu akhirnya menilai dari kesan umum.

Ada tiga gejala yang biasanya menandakan bisnis sedang membaca angka dengan cara yang kurang tepat:

  • Keberhasilan dinilai dari pertumbuhan pengikut, padahal tidak jelas apakah pengikut baru itu calon pelanggan.
  • Konten yang ramai dianggap berhasil, meskipun tidak ada pesan, kunjungan website, atau pertanyaan harga yang masuk setelahnya.
  • Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan sederhana: berapa banyak pelanggan bulan ini yang pertama kali mengenal kita dari media sosial?

Untuk keluar dari pola ini, langkah pertama adalah mengelompokkan metrik berdasarkan pertanyaan yang ingin dijawab.

Tiga Lapisan Metrik Media Sosial

Saya membagi metrik media sosial ke dalam tiga lapisan. Setiap lapisan menjawab pertanyaan yang berbeda dan digunakan oleh orang yang berbeda. Kesalahan umum adalah mencampur ketiganya dalam satu laporan tanpa hierarki.

Lapisan 1: Metrik Konten

Pertanyaan yang dijawab: konten mana yang resonan dengan audiens? Metrik di lapisan ini terutama berguna bagi tim pelaksana untuk memperbaiki konten.

  • Jangkauan: berapa banyak akun unik yang melihat konten.
  • Tingkat interaksi: proporsi orang yang berinteraksi dibandingkan yang melihat. Lebih berguna daripada jumlah interaksi mentah karena memperhitungkan ukuran jangkauan.
  • Simpan dan bagikan: sinyal bahwa konten dianggap bernilai atau layak diteruskan. Menurut saya sinyal ini lebih kuat daripada suka.
  • Durasi tonton dan retensi video: apakah orang menonton sampai inti pesan, atau berhenti di detik awal.

Lapisan 2: Metrik Audiens

Pertanyaan yang dijawab: apakah kita menarik dan mempertahankan orang yang tepat? Lapisan ini penting bagi manajer pemasaran.

  • Pertumbuhan pengikut yang relevan: bukan hanya jumlah, tetapi apakah profil pengikut baru sesuai dengan target pasar.
  • Kunjungan profil: berapa banyak orang yang cukup tertarik untuk memeriksa akun Anda.
  • Pesan langsung dan komentar berkualitas: pertanyaan tentang produk, harga, atau cara kerja menunjukkan minat yang nyata.
  • Proporsi audiens yang kembali: apakah orang yang sama terus berinteraksi dari waktu ke waktu.

Lapisan 3: Metrik Bisnis

Pertanyaan yang dijawab: apa kontribusi media sosial terhadap pendapatan? Lapisan inilah yang seharusnya paling diperhatikan pimpinan.

  • Klik ke website atau halaman tujuan dari media sosial.
  • Leads atau percakapan penjualan yang berasal dari media sosial, misalnya pesan WhatsApp, formulir, atau pertanyaan via pesan langsung.
  • Konversi menjadi pelanggan dari leads tersebut.
  • Kontribusi tidak langsung: pelanggan yang menyebut media sosial sebagai salah satu alasan mereka percaya, meskipun transaksi terjadi lewat saluran lain.
  • Biaya per hasil jika ada anggaran iklan yang terlibat.

Dengan pembagian ini, laporan bisa disusun berjenjang. Pimpinan membaca lapisan ketiga terlebih dahulu. Jika ada masalah di sana, lapisan kedua dan pertama dipakai untuk mendiagnosis penyebabnya.

Metrik yang Sering Menyesatkan

Beberapa angka tidak salah, tetapi mudah disalahartikan. Berikut yang paling sering saya temui.

Jumlah pengikut. Pengikut adalah aset, tetapi hanya jika relevan dan aktif. Akun dengan pengikut sedikit tetapi berisi calon pelanggan yang tepat sering lebih berharga daripada akun dengan pengikut besar yang tidak pernah membeli. Pertumbuhan pengikut dari giveaway yang tidak terarah, misalnya, bisa meningkatkan angka sekaligus menurunkan kualitas audiens.

Tayangan total. Tayangan menghitung berapa kali konten muncul, termasuk tayangan berulang pada orang yang sama. Angka ini bisa terlihat besar tanpa mencerminkan berapa banyak orang baru yang benar-benar terjangkau.

Lonjakan viral. Satu konten yang tiba-tiba menjangkau sangat banyak orang memang menyenangkan. Namun jika audiens yang terjangkau bukan target pasar, dampaknya terhadap bisnis bisa minimal. Lonjakan seperti ini juga sering membuat rata-rata bulanan terlihat bagus padahal konten lainnya stagnan.

Tingkat interaksi tanpa konteks. Tingkat interaksi sangat dipengaruhi format, platform, dan ukuran akun. Membandingkan tingkat interaksi akun Anda dengan akun lain tanpa mempertimbangkan perbedaan ini bisa menghasilkan kesimpulan yang keliru. Lebih berguna membandingkan dengan performa akun Anda sendiri dari waktu ke waktu.

Rata-rata jangka pendek. Membandingkan satu minggu dengan minggu sebelumnya sering menghasilkan kesimpulan yang terburu-buru. Performa media sosial dipengaruhi banyak hal di luar kendali tim, seperti hari libur, perubahan algoritma, atau peristiwa yang sedang ramai dibicarakan. Saya lebih menyarankan membaca tren dalam rentang beberapa bulan, lalu mencari pola yang konsisten. Keputusan yang diambil dari fluktuasi mingguan cenderung membuat strategi berubah-ubah tanpa alasan yang kuat, dan tim kehilangan kesempatan untuk belajar dari eksperimen yang belum selesai.

Logika serupa juga berlaku di iklan berbayar. Banyak bisnis terpaku pada satu angka seperti ROAS, padahal angka itu bisa menyesatkan jika dibaca tanpa konteks. Saya membahasnya di artikel ROAS bukan segalanya: metrik iklan untuk pemilik bisnis.

Menghubungkan Media Sosial ke Penjualan

Bagian tersulit dari pengukuran adalah menghubungkan aktivitas media sosial dengan penjualan. Kesulitannya nyata, karena perjalanan pelanggan jarang lurus. Seseorang bisa melihat konten Anda di Instagram, lalu beberapa minggu kemudian mencari nama brand di Google dan membeli lewat website. Dalam laporan, penjualan ini bisa tercatat sebagai pencarian, bukan media sosial.

Tidak ada cara sempurna untuk mengatasinya, tetapi kombinasi beberapa praktik sederhana bisa memberi gambaran yang jauh lebih jelas:

  1. Gunakan tautan dengan parameter pelacakan untuk setiap tautan di bio, cerita, dan iklan, agar kunjungan dari media sosial tercatat terpisah di analitik website.
  2. Bedakan pintu masuk percakapan, misalnya pesan pembuka WhatsApp yang berbeda untuk setiap platform, sehingga tim sales tahu dari mana prospek datang.
  3. Tanyakan langsung. Tambahkan pertanyaan "dari mana Anda mengetahui kami" di formulir atau di awal percakapan sales, lalu catat jawabannya di CRM.
  4. Catat sumber di CRM secara disiplin, sehingga setiap leads punya asal yang bisa ditelusuri sampai ke penjualan.
  5. Amati pola, bukan hanya angka tunggal. Misalnya, apakah pertanyaan harga meningkat setelah serangkaian konten edukasi tertentu dipublikasikan.

Praktik ini membutuhkan kerja sama antara tim pemasaran dan tim sales. Tanpa disiplin pencatatan di sisi sales, data dari media sosial akan terputus di tengah jalan. Ini salah satu alasan saya selalu mendorong agar laporan media sosial dibahas bersama tim sales, bukan hanya di internal tim pemasaran.

Perlu diingat juga bahwa peran media sosial dalam funnel berbeda antara konten organik dan iklan. Konten organik lebih sering berkontribusi secara tidak langsung, sementara iklan lebih mudah diukur secara langsung. Kerangka lengkapnya ada di artikel organik vs berbayar: peran media sosial dalam funnel.

Menyusun Laporan yang Berguna untuk Pimpinan

Laporan yang baik tidak harus panjang. Laporan yang baik menjawab pertanyaan pimpinan dengan cepat dan mengarah pada keputusan. Struktur yang saya sarankan:

  1. Ringkasan hasil bisnis: dalam satu paragraf, apa kontribusi media sosial bulan ini terhadap leads, kunjungan, atau penjualan, dibandingkan bulan sebelumnya.
  2. Apa yang berhasil: dua atau tiga konten atau inisiatif dengan hasil terbaik, beserta dugaan alasannya.
  3. Apa yang tidak berhasil: konten atau inisiatif yang di bawah harapan, juga dengan dugaan alasannya.
  4. Wawasan dari audiens: pertanyaan, keluhan, atau pola percakapan yang perlu diketahui tim lain.
  5. Keputusan untuk bulan depan: apa yang akan dipertahankan, diubah, atau dihentikan.
  6. Lampiran data: angka detail untuk yang ingin menelusuri lebih dalam.

Perhatikan bahwa angka detail ditempatkan di bagian akhir sebagai lampiran, bukan sebagai isi utama. Urutan ini memaksa tim untuk berpikir tentang makna, bukan sekadar menyalin angka. Pola ini juga yang kami terapkan di layanan social media management LOPOKOPI.CO, karena laporan yang dimulai dari keputusan jauh lebih berguna bagi pimpinan daripada laporan yang dimulai dari tabel.

Satu hal lagi: tentukan metrik utama sejak strategi disusun, bukan setelah hasil keluar. Jika tujuan media sosial adalah membangun kepercayaan sebelum tim sales menghubungi, metrik utamanya berbeda dengan akun yang bertujuan mendorong pembelian langsung. Hubungan antara tujuan dan cara mengukur ini saya bahas di artikel strategi konten media sosial untuk pertumbuhan yang konsisten.

Yang Perlu Diputuskan Pemimpin Bisnis

  • Tetapkan satu sampai tiga metrik bisnis utama yang menjadi ukuran keberhasilan media sosial, sesuai perannya dalam funnel.
  • Kelompokkan metrik ke dalam lapisan konten, audiens, dan bisnis, lalu baca dari lapisan bisnis terlebih dahulu.
  • Jangan menilai keberhasilan dari jumlah pengikut atau lonjakan viral tanpa melihat relevansi dan dampaknya.
  • Bangun pelacakan sederhana: tautan dengan parameter, pintu masuk percakapan yang berbeda, dan pencatatan sumber di CRM.
  • Minta laporan yang dimulai dari ringkasan hasil dan keputusan, dengan angka detail sebagai lampiran.

FAQ

Metrik media sosial apa yang paling penting untuk bisnis?

Yang paling penting adalah metrik yang terkait langsung dengan tujuan bisnis, seperti leads, percakapan penjualan, kunjungan ke website, dan konversi menjadi pelanggan. Metrik konten seperti jangkauan dan interaksi tetap berguna, tetapi sebagai alat diagnosis, bukan ukuran akhir keberhasilan.

Apakah jumlah followers masih penting?

Jumlah pengikut penting jika pengikutnya relevan dan aktif. Pengikut yang sesuai dengan target pasar adalah aset. Namun pertumbuhan pengikut yang tidak relevan bisa menurunkan kualitas audiens dan membuat performa konten terlihat lebih buruk dari seharusnya.

Bagaimana cara tahu penjualan berasal dari media sosial?

Gabungkan beberapa cara: tautan dengan parameter pelacakan, pesan pembuka WhatsApp yang berbeda per platform, pertanyaan tentang sumber informasi saat prospek menghubungi, dan pencatatan sumber di CRM. Tidak ada satu cara yang sempurna, tetapi kombinasinya memberi gambaran yang cukup jelas.

Seberapa sering laporan media sosial sebaiknya dibuat?

Untuk kebanyakan bisnis, laporan bulanan sudah cukup untuk evaluasi taktik, dengan tinjauan arah strategi setiap kuartal. Pemantauan mingguan bisa dilakukan oleh tim pelaksana, tetapi tidak perlu dilaporkan ke pimpinan kecuali ada perubahan yang signifikan.

Mengukur dengan benar adalah cara paling efektif untuk menjaga media sosial tetap terhubung dengan bisnis. Ketika setiap angka punya tujuan, diskusi tentang media sosial berubah dari perdebatan opini menjadi percakapan tentang keputusan.

Foto: Pexels

PR

Written by

Pahmi Ritonga

Founder & CEO, LOPOKOPI.CO

I run LOPOKOPI.CO and its sister companies, where we help businesses build marketing that answers to revenue, not vanity metrics. Here I write about the decisions behind growth: where to invest, what to measure, and how to keep marketing disciplined as a company scales.

Companies I buildLOPOKOPI.COBikinwebsite.coUrusin.coRAV Media